Riba Menurut Tinjauan Syariat

Disusun oleh : Ust Armen Halim Naro, Lc

Usaha dagang atau bisnis dewasa ini merupakan mata pencaharian yang paling menonjol dan mempunyai perkembangan pesat. Hal ini merupakan fakta yang telah diramalkan oleh Rasul yang mulia. Sehingga yang terjun dalam usaha ini bukan hanya seorang suami saja -yang memang menurut Islam mempunyai kewajiban mencari nafkah bagi anak dan isterinya-, akan tetapi sang isteripun juga ikut menanganinya. Terlepas dampak yang ditimbulkan dari hal tersebut -baik atau buruk- tapi itu sebagai bukti, bahwa kita memang berada pada akhir zaman.

Diriwayatkan oleh Imam Nasa’i dari Amr bin Taghlib berkata, telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alahi wa Sallam,

Dari Amr bin Taghlib berkata, telah bersabda Rasullullah Shallallahu ‘Alahi wa Sallam: “Diantara tanda hari kiamat ialah berkembang dan banyaknya harta, dan tersebarnya perdagangan (bisnis). [1]

Juga diriwayatkan oleh Ahmad dan Hakim, dari Abdullah bin Mas’ud dari Nabi, bahwasanya beliau bersabda,

Dari Abdullah bin Mas’ud dari Nabi, bahwasanya beliau bersabda,”Diantara tanda hari kiamat, memberi salam kepada orang tertentu saja dan menyebarnya perdagangan, sehingga seorang isteri membantu suaminya dalam usahanya.” [2]

Islam memuji suatu perdagangan yang jujur sesuai dengan akhlak dan adab syara`. Akan tetapi, jika perdagangan tersebut menyeret seorang muslim hingga mengikuti arus dunia dan lupa terhadap hukum halal dan haram, maka demikian itu sangat dicemaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alahi wa Sallam, sehingga beliau selalu mengingatkan umatnya dari perbuatan tersebut dalam sebuah hadits, yang artinya :

Demi Allah, aku tidak cemas kefakiran menimpa kalian, akan tetapi yang sangat aku cemaskan jika dunia terbentang di hadapan kalian sebagaimana telah dibentangkan kepada orang-orang sebelum kalian.[3]  Sehingga kalian berlomba-lomba dengannya sebagaimana mereka berlomba (mengejar dunia) dan kalian dibuat lalai sebagaimana mereka dibuat lalai oleh dunia.[4]

Berlomba-lomba dengan dunia dapat menyeret seseorang berlaku longgar terhadap agamanya. Setiap kali dia memberanikan diri untuk melangkah dalam usahanya kepada sesuatu yang meragukan agamanya, akan mengangkat kakinya untuk melangkah kepada sesuatu yang lebih berbahaya lagi. Begitulah … berawal dari keraguan, setelah itu syubhat, kemudian jatuh kepada yang haram. Disanalah kehancurannya dan juga kehancuran orang lain akibat ulahnya.[5]

Diriwayatkan oleh Bukhari dari Abu Hurairah,

Dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasullah bersabda,”Akan datang suatu zaman, seseorang tidak peduli dari mana dia memperoleh harta, apakah dari yang halal atau dari yang haram?!” [6]

Di antara dosa yang sudah dianggap biasa oleh sebagian orang, terutama yang terjun ke dalam dunia perdagangan ialah dosa riba, kecuali orang yang memperoleh belaian kasih sayang Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Apakah riba itu? Sejauh manakah dosa orang yang terlibat di dalamnya? Bagaimanakah bentuk macamnya? Pada pembahasan ini, penulis mencoba untuk mengangkatnya ke hadapan pembaca budiman, dan mudah-mudahan kita termasuk orang-orang yang mau mendengar kebenaran serta dapat mengikuti yang terbaik.

DEFINISI RIBA
Riba, secara bahasa berarti tambahan. Dikatakan, arba fulan `ala fulan, yaitu si fulan telah menambah kepada si fulan.[7] Sedangkan secara istilah; para fuqaha berbeda dalam memberikan definisi riba. Akan tetapi semuanya bermuara kepada satu maksud, yaitu penambahan pada modal pokok, sedikit atau banyak.[8]

TAHAPAN PENGHARAMAN RIBA
Islam adalah agama yang pertama kali tidak menganjurkan riba, sebaliknya menyuruh memperbanyak zakat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipat-gandakan (pahalanya). (QS Ar Rum:39).

Kemudian datang pengharaman memakan riba secara berlipat ganda. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan. (QS Ali Imran:130).

Terakhir diharamkanlah riba secara umum, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. (QS Al Baqarah:278).

ANCAMAN BAGI ORANG YANG BERMU’AMALAH DENGAN RIBA
Bagi orang yang bermu`amalah dengan riba, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengancam dengan azab di akhirat,

Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri, melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syEtan lantaran (tekanan) penyakit gila. (QS Al Baqarah:275).

Bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala mengancam kepada siapa saja yang mengulangi perbuatan riba kembali, setelah mengetahui pengharamannya. Bahwasanya orang itu masuk ke dalam neraka, kekal di dalamnya,

Orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (QS Al Baqarah:275).

Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala menghilangkan keberkahan riba, dan menyifati pelakunya dengan kekufuran jika dia menghalalkannya serta menyifati pelakunya dengan kufur nikmat, jika dia melakukan dengan memiliki pengakuan, bahwa riba haram dan pelakunya bergelimang dengan dosa,

Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa. (QS Al Baqarah:276).

Bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala mengumumkan peperangan terhadap pelaku riba[9] jika dia tidak segera meninggalkannya. Firman Allah,

Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan RasulNya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya. (QS Al Baqarah:279).[10]

Disamping ancaman Al Qur’an, disebutkan juga ancaman dalam As Sunnah yang cukup membuat ciut hati seorang muslim bila melakukan riba.

Dari Jabir berkata, telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alahi wa Sallam ,”Allah Subhanahu wa Ta’ala melaknat orang yang memakan riba, yang memberi makan (peminjam), kedua saksi, dan penulisnya, mereka sama saja.” [11]

Riba mempunyai tujuh puluh dua pintu. Yang paling ringan (dosanya), seperti seseorang yang menzinai ibunya. Dan riba yang tertinggi, sama dosanya dengan seseorang yang melecehkan kehormatan seorang muslim.[12]

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Hakim dan dishahihkannya, menyebutkan, bahwa satu dirham dalam riba lebih besar dosanya dari tiga puluh tiga kali zina.
HIKMAH PENGHARAMAN RIBA
Riba diharamkan oleh semua agama samawi. [13] Karena menimbulkan dampak terhadap akhlak dan sosial. Diantaranya sebagai berikut:[14]
Pertama, menyebabkan permusuhan antar individu dan menghapus sifat tolong-menolong sesama manusia. Sedangkan semua agama -terlebih lagi Islam- mendorong agar manusia saling tolong-menolong.

Kedua, riba dapat meningkatkan rasa tamak, menimbulkan rasa kikir yang berlebihan, mementingkan diri sendiri, keras hati, tirani dan memuja uang.

Ketiga, riba mengakibatkan terjadinya penimbunan (akumulasi) kekayaan dan menghambat adanya investasi langsung dalam perdagangan. Jika diinvestasipun, hanya dilakukan demi kepentingan pribadi tanpa memperhatikan kepentingan masyarakat.

Keempat, riba menghambat sirkulasi kekayaan. Karena kekayaan itu hanya akan berada di tangan-tangan pemilik modal.

Kelima, pendapatan riba merupakan bentuk perolehan harta tanpa usaha. Adalah menzhalimi orang lain. Padahal Islam menganjurkan ummatnya untuk berusaha dalam mencari rizki. Oleh karenanya, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata,”Pengharaman riba lebih keras dari pengharaman judi. Karena si pelaku riba mengambil keuntungan yang pasti dari seseorang yang membutuhkan. Adapun penjudi, mungkin saja dia bisa memperoleh keuntungan dan kadang-kadang mungkin saja sebaliknya. Maka, riba merupakan perbuatan zhalim yang pasti. Karena termasuk penindasan si kaya terhadap si fakir. Berbeda dengan judi. Kadang-kadang si fakir bisa memperoleh keuntungan dari si kaya, dan tidak jarang pula si kaya dan si fakir sama-sama memperoleh keuntungan … Dan sebagaimana yang telah diketahui, menzhalimi orang yang membutuhkan lebih besar (dosanya) dari menzhalimi orang yang tidak membutuhkan. [15]

PEMBAGIAN RIBA
Riba dibagi menjadi dua macam:

Riba Nasi’ah. Diambil dari kata nasa, yang berarti mengakhirkan. Terbagi dalam dua bentuk.

Pertama. Menambah hutang bagi yang tidak dapat melunasinya (pada waktu yang telah ditentukan). Demikian ini yang disebut dengan riba jahiliyah. Yaitu ketika seseorang mempunyai uang atas seseorang, dia berkata: Apakah engkau akan melunasi atau riba (mengakhirkan)? Jika melunasi, maka selesailah permasalahan. Akan tetapi, jika meminta penangguhan pembayaran, maka ditambah pula jumlah pembayarannya, sehingga bertumpuklah hutang orang tadi. (Penambahan bisa saja secara kuantitas. Seperti menangguhkan pengembalian seekor onta sekarang dengan dua ekor onta pada masa mendatang. Begitu juga, bangsa Arab sudah terbiasa dengan situasi, jika seorang pemberi pinjaman untuk suatu periode tertentu dan mengambil sejumlah riba tertentu setiap bulan. Jika peminjam tidak dapat membayar pinjaman pokok ketika  telah jatuh tempo, ia akan diberikan tangguh  waktu pembayaran kembali dengan menambahkan riba yang ia terima dari peminjam. Inilah riba yang berlaku sekarang dan dikutip oleh Bank dan Lembaga
Keuangan lain di negara-negara kita). [16]

Kedua. Setiap jual beli sejenis yang mempunyai permasalahan `illah (sebab diharamkannya sebagaimana yang akan diterangkan nanti) dengan mengundurkan pengambilan barang dan uang atau pengunduran pengambilan salah satu dari keduanya, seperti menjual emas dengan emas, perak dengan perak dan semisalnya.

Riba Al Fadhl. Diambil dari kata fadhl. Yaitu jual beli satu jenis barang yang masuk dalam katagori riba dengan berbeda timbangan, seperti: menukar emas 24 karat satu kg dengan emas 22 karat satu setengah kg.

Syari’at telah menentukan enam macam barang yang masuk kedalamnya riba, yaitu : emas, perak, gandum, jelai, kurma dan garam; jika dijual enam macam barang ini dengan berbeda timbangan, maka para ulama telah sepakat tentang keharamannya, sesuai dengan hadits `Ubadah bin Shamit, dari Nabi Shallallahu ‘Alahi wa Sallam bersabda,

Artinya: Emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, jelai dengan jelai, kurma dengan kurma, garam dengan garam (serupa dengan serupa, setara dengan setara, dari tangan ke tangan (tunai). Jika barang-barang itu berbeda, maka juallah sekehendak kalian, dengan syarat pertukaran itu dari tangan ke tangan.

Hadits ini menunjukkan, tidak diperbolehkan menjual barang-barang yang sama untuk ditukar dengan barang yang sama dengan penambahan atau menangguhkan penyerahan barang.

Jika persoalannya demikian, apakah riba itu hanya terdapat pada keenam barang yang telah disebutkan ataukah dapat terjadi pada brang-barang selain itu? Tak ada perbedaan di kalangan para ulama, bahwa dengan qiyas, riba dapat memasuki komoditas yang tidak disebutkan dalam hadits tersebut, kecuali mazhab Zhahiriah yang tidak menjadikan qiyas sebagai landasan hukum mereka, sehingga mereka membatasi, bahwa riba al fadhl hanya kepada enam barang ini saja, akan tetapi mereka para ulama berselisih dalam `illah (persamaan sebab) sehingga diharamkannya ke enam komoditas di atas.

Pendapat yang dirajihkan oleh para ulama terkemuka pada zaman sekarang ialah: bahwa illah  pada emas dan perak ialah harga. Maka setiap sesuatu yang dijadikan sebagai alat tukar-menukar, (misalnya, seperti uang kertas) pada zaman kita sekarang ini, dapat masuk ke dalam kategori tersebut. Sehingga diharamkan menjual (menukar) seribu rupiah uang kertas dengan sembilan ratus rupiah uang logam, karena uangnya satu jenis, dalam kata lain berasal dari satu negara.

Sedangkan selain dari emas dan perak, maka yang shahih dari perkataan para ulama, ialah makanan yang ditimbang dan ditakar. Masuk ke dalam katagori riba seperti ini ialah beras dan yang lainnya

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah,”`Illah diharamkannya riba al fadhl, ialah ditimbang atau ditakar selagi ia (berupa) makanan, dan pendapat ini salah satu riwayat dari Imam Ahmad. [17]

Kesimpulan tentang pengharaman riba nasi’ah dan al fadhl sebagaimana berikut ini.

–          Setiap sesuatu yang mempunyai kesamaan `illah, harga pada emas dan perak dan pada barang yang empat lainnya, yaitu illahnya  makanan yang ditimbang atau yang ditakar, maka hukumnya jatuh ke dalam riba.

–          Jika dua barang tersebut satu jenis, maka diharamkan penambahan atau penangguhan tempo pembayaran, seperti: beras dengan beras, tidak dibenarkan dijual satu kg dengan dua kg atau penangguhan, beras satu kg merek tertentu tunai dengan beras satu kg merek yang lainnya tidak tunai.

–          Jika `illahnya sama, tetapi jenis berbeda, diperbolehkan penambahan. Namun tetap diharamkan penangguhan tempo, seperti; satu kg emas dengan sepuluh kg perak, menurut syariat diperbolehkan asalkan sama-sama tunai, karenan `illahnya sama, yaitu harga.

–          Jika berbeda `illah dan jenis, maka diperbolehkan penambahan dan penangguhan, seperti: emas dengan beras, perak dengan kurma dan semisalnya.[18]

SEPUTAR PERMASAHAN RIBA

Riba bahayanya sangat besar. Seorang muslim yang tidak dapat mengetahui hukum riba, hendaklah bertanya kepada ahli ilmu. Tidak dibenarkan seseorang terjun ke dalam suatu bisnis, kecuali setelah dapat memastikan bahwa bisnisnya tersebut terbebas dari riba dan dari segala sesuatu yang diharamkan syari’at, sebagaimana yang dilansir oleh Nabi Shallallahu ‘Alahi wa Sallam, bahwa pada akhir zaman riba tersebar luas. Orang yang tidak memakannya -sedikitnya- memperoleh debunya.

Dari bentuk transaksi riba, yaitu: meminjamkan dengan apa yang disebut bunga. Yang benar hal itu bukanlah bunga, akan tetapi riba. Sebab nama tidaklah dapat merubah hakikat sesuatu.

Demikianlah -dewasa ini- yang berlaku pada Bank-Bank konvensional. Yaitu Bank meminjamkan kepada nasabah dengan sistim pembayaran angsuran ditambah bunga tertentu. Jika nasabah terlambat dalam pembayaran pada waktu yang telah ditentukan, maka dikenakan denda, sehingga berkumpullah dua macam riba sekaligus. Yaitu, riba nasi’ah dan riba al fadhl.

Diantara  mu`amalah yang termasuk riba, yaitu yang berlaku pada Bank-Bank dengan menentukan bunga tertentu bagi penabung, dan Bank mempunyai hak untuk memutar uang tersebut dengan sistim riba pula.

Masih banyaknya kalangan orang tua yang bangga karena putra-putri mereka -disamping sudah bertitel- dapat pula bekerja di Bank. Mereka tidak tahu atau pura-pura tidak tahu, bahwa dengan kebanggaannya tersebut, mereka telah jatuh ke dalam dua kesalahan. Yaitu telah menjerumuskan anak mereka ke dalam suatu dosa yang lebih besar dosanya dari dosa zina, dan kedua, bangga berada di atas kesalahan dan dosa tersebut.

Kapan kaum muslimin kembali kepada masa lampaunya? Dengan menganggap riba termasuk dari bentuk ‘Penyakit Masyarakat’, sebagaimana zina dan pelacuran. Wallahul musta`an.

 


Kutib Dari Majalah As-Sunnah – Solo Edisi 02/VII/1424 H/2003 M, hal. 12-17 (rubrik  Mabhats)

Mar’ji :

[1] Sunan Nasa’i, 7/244 syarah Suyuthi. Hadits dari riwayat Hasan dari `Amar bin Taghlib, dan Hasan mudallis, dan dia meriwayatkan dengan lafadz `an, akan tetapi ia dalam riwayat Imam Ahmad telah meriwayatkan dengan lafadz haddatsana. Lihat Musnad 5/69- dengan Hamiys Muntakhab Al Kanz, dan lihat Silsilah Shahihah Albani, 2/251-252 nukilan dari kitab Asyrathus Sa`ah karangan Dr. Yusuf Al Wabil, hal. 170, Ibnul Jauzi, Riyadh, Cet.VII/1996.

[2] Musnad, 5/333 syarah Ahmad Syakir, beliau berkata: sanadnya shahih dan Mustadrak, Hakim 4/445-446.

[3] Hadits ini menunjukkan batalnya sebagian orang yang menganggap ada sebuah hadits yang mengatakan: “Bahwa hampir saja kefakiran membawa kepada kekufuran,” penulis katakan sebaliknya: “Hampir saja kekayaan membawa kepada kekufuran,” dengan melihat banyaknya orang yang telah memiliki segalanya dari kenikmatan dunia, akan tetapi ketika dia berhadapan dengan permasalahan halal  dan haram, dia dengan mudah menjual agamanya untuk meraih keuntungan dari beberapa lembar uang rupiah. Wallahul musta`an.

[4]  Bukhari 6/257- 258 dengan Fathul Bari dan Muslim 18/ 95 dengan syarah Nawawi.

[5] Sebagaiman firman Allah l ,

Artinya : Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya menta`ati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya). (QS Al-Isra`:16).

Berkaitan dengan tafsir ayat ini, lihat tafsir Ibnu Katsir. Suatu ilmu yang sangat berharga.

[6] Shahih Bukhari 4/313 dengan Fath.

[7] Lihat Qamusul Muhith 4/326; Mishabhul Munir 1/295 dan Mukhtar As Shihah, hal. 232.

[8] Lihat Fiqhus Sunnah karya Sayyid Sabiq 3/186, `Ubaikan, 1996 dan Minhajul Muslim Abu Bakar Al Jazairi, hal. 368, Darul Fikri, Beirut, 1992.

[9] Kemenangan apa yang diharapkan bagi seorang muslim yang berbuat riba, jika lawan tandingnya adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan RasulNya? Kebahagiaan dan kenikmatan yang sementara karena harta yang tidak berkah tersebut dibayar dengan kesengsaraan dan kebinasaan abadi. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak saja membiarkannya, akan tetapi memeranginya. Sungguh suatu kerugian yang nyata.

[10] Lihat Al Mulakhkhashul Fiqhi, Syaikh Al Fauzan 26-27, Ibnul Jauzi, Riyadh, Cet.VI/1995.

[11] Hadits shahih , dikeluarkan oleh Muslim dan Ahmad. Lihat Shahih Jami` Ash Shaghir 2/907, Al Maktab Al Islami, Cet.III/ 1988 dan Irwa` Ghalil no. 1336.

[12] Hadits shahih. Lihat Silsilah Shahihah no. 1871.

[13] Lihat Ar Riba Wal Qardh, hal.15-20 Dr. Muhammad Abdul Hadi, Maktabah Haramain, Riyadh.

[14] Lihat Etika Bisnis Dalam Islam, hal. 133-134 Dr. Mustaq Ahmad, diterjemahkan oleh Samson Rahman, Pustaka Kautsar, Jakarta, Cet.I/ 2001 dan Fiqhus Sunnah, hal. 187.

[15] Dinukilkan oleh Syaikh Shalih Al Fauzan di kitab Mulakhkhash Al Fiqhi, hal. 2/27, dan penulis belum menemukan perkataan di atas dalam kitab-kitabnya.

[16] Sistem Moneter Islam, hal. 182 Dr. M. Umar Chapra, diterjemahkan oleh Ikhwan Abidin, Gema Insani Pres, Cet.I / 2000.

[17] Al Ikhtiarat, hal. 75.

[18] Lihat Al Mulakhkhashul Fiqhi, hal. 28-30; Minhajul Muslim, hal. 368-369; Sistem Moneter Dalam Islam, hal. 182-183, dan Ta`liqat Ar Radhiyyah,  2/ 394 Ali Hasan bin Abdul Hamid, Daru Ibnu `Affan, Cet. I/ 1999.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: